Cara-Cara Memahami dan Menangani Stress

This article was adapted from DOOR International’s article titled “Understanding Stress and Its Impact on Workplace Well-Being,” published 14 October 2024. Read the original article here.

Stres merupakan sebuah hal yang wajar dirasakan dalam bekerja dan beraktivitas sehari-hari. Dalam jumlah yang cukup dan sehat, merasakan stres merupakan tanda bahwa kita menjalani hidup yang menstimulasi dan bermakna. Untuk menjadikan stres sebagai kekuatan yang mendorong, bukan menghalangi, produktivitas, kita perlu memahami dan jenis-jenis stres yang ada dan cara menanganinya.

Dr. Karl Albrecht, dalam bukunya “Stress and the Manager” mengidentifikasi lima jenis stress yang dapat muncul dalam ranah profesional, sebagai berikut:

1. Stres Terkait Waktu (Time Stress)

Stres terkait waktu muncul ketika kita merasa tidak memiliki cukup waktu untuk mengerjakan tugas, sehingga menimbulkan rasa cemas. Contohnya seperti tenggat waktu (deadline) yang semakin dekat.

Beberapa tips untuk menanganinya adalah dengan tetap bekerja dengan rapi, mengerjakan tugas berdasarkan skala prioritas, mengerjakan beberapa hal dengan mengutamakan efisiensi (multitasking), dan membuat jadwal kerja.

2. Stres Antisipatif (Anticipatory Stress)

Rasa stres ini muncul ketika kita mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. Hal ini bisa berarti hal yang akan datang, misalnya presentasi di klien penting minggu depan, atau skenario hasil imajinasi kita belaka, misalnya gosip PHK massal atau what-if scenarios.

Beberapa cara untuk menangani jenis stres ini adalah dengan berpikir positif, melakukan meditasi, dan membuat rencana konkret berdasarkan skenario yang dikhawatirkan (contingency planning).

3. Stres Situasional (Situational Stress)

Situasi sementara yang tidak terduga, seperti kesalahan ejaan pada proposal yang diberikan ke klien, dapat memicu stres situasional. Dalam tempat kerja, kejutan menegangkan ini terkadang berada di luar kendali kita. Yang bisa kita kontrol adalah cara kita merespon terhadap situasi.

Hal yang bisa dilakukan ketika berada dalam situasi ini contohnya adalah melakukan teknik relaksasi seperti bernapas sadar dan meditasi, mengevaluasi ulang area-area yang berpotensi tinggi untuk menimbulkan stres, dan berolahraga untuk meningkatkan hormon endorfin.

4. Stres Akan Pertemuan (Encounter Stress)

Jenis stres ini muncul dari rasa cemas akan bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang tertentu. Hal ini bisa saja muncul karena pengalaman buruk, seperti percakapan yang sulit dan kolega yang kurang kooperatif, atau prospek akan interaksi yang nampaknya kurang menyenangkan.

Manusia adalah makhluk sosial, mustahil bisa bekerja sama sekali sendirian. Karena itu, penting untuk bisa menangani stres ini, salah satunya dengan memiliki rasa empati dan mendengarkan dengan aktif. Selain itu, penting untuk saling menjaga ekspektasi dan membangun diskusi yang memberikan solusi terbaik bagi seluruh pihak.

5. Stres Tentang Diri Sendiri (Self-Imposed Stress)

It’s me, hi, I’m the problem, it’s me. Stres ini sering terjadi pada pribadi yang mengejar kesempurnaan atau mencari validasi dari orang lain. Misalnya, seorang perfeksionis bisa jadi menunda membuat keputusan sampai ia bisa menemukan satu yang sempurna atau orang yang gemar membandingkan diri di media sosial dapat memiliki standar yang tidak realistis, merasa minder, dan memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Untuk mengurangi risiko stres akibat diri sendiri, kita perlu memiliki batasan diri yang sehat (setting boundaries for self), baik batasan tentang banyaknya riset yang dilakukan, waktu mengonsumsi media sosial, dan lain-lain.

Selain tips-tips yang disebutkan di atas, penting juga untuk menjaga diri kita agar sehat lahir batin, seperti mengonsumsi makanan bernutrisi seimbang, tidur yang berkualitas dan cukup, berolahraga rutin, melakukan hobi, menjaga hubungan baik dengan teman dan keluarga, dan memberi ruang bagi diri sendiri untuk berproses.

Next
Next

Gaya Komunikasi Pemimpin untuk Memaksimalkan Dampak Positif